Mengenang Kembali Bunda Yoyoh Yusroh


Yoyoh Yusroh


Siapa yang tidak mengenal ustazah Yoyoh Yusroh? Sosok yang sangat menginspirasi, seorang ibu yang menjadi teladan, istri yang sholeha. Beliau merupakan sosok yang begitu mengayomi, pendidik dan teladan bagi orang disekitarnya yang patut dicontoh setiap perilakunya karena akhlak yang melekat kuat mulai dari didikan yang ada di rumah dan memiliki nilai spiritualitas dengan Sang Khalik yang begitu luar biasa dan juga penjagaan diri dengan hafalan Al-Qur’annya.
Beliau bersama suaminya membesarkan 13 orang anak. Dengan kepribadian yang sangat kuat, tidak takut apapun kecuali Allah, sabar, tenang serta tahan banting dalam hidup bermasyarakat, tidak mengeluh dan selalu lebih mementingkan orang lain.
Sejak kecil ayahnya sudah membiasakan untuk tampil di depan orang banyak. Dari mulai berpidato dengan teks terjemahan Arab Melayu sejak umur 5 tahun. Sehingga beliau sering tampil memberi ceramah di majelis taklim dekat rumah meski harus dihadapan orang yang lebih tua. Selain itu ayahnya juga sering  membacakan kisah-kisah para nabi sahabat. Cerita-cerita itulah yang akhirnya menjadi modal beliau saat menyajikan materi pidato. Karena itulah, kecintaan beliau terhadap cerita-cerita para nabi dan keilmuan tentang dunia Islam, terutama sejarah, sangat mendalam.
Sementara Emaknya memiliki peran yang tak kalah hebatnya. Emak pernah melarang beliau membantunya membuat makanan di dapur. Saat itu Ramadhan, beliau sangat ingin membantu Emak. Namun apa kata Emak, ”Sudahlah Nak, sana pergi saja mengaji. Bikin kue sih nanti juga bisa. Gampang dipelajari”. Akhirnya beliau pun meneruskan utuk mengaji dan mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 5-6 kali setiap Ramadhan.
Kisah unik di masa sekolah terjadi saat ”lompat kelas” yaitu dari kelas 2 ke kelas 4. Hal tersebut terjadi karena kecerdasan yang dimiliki beliau. Padahal, waktu itu beliau belajar tanpa lampu penerangan yang memadai karena belum ada listrik di desanya. Bahkan beliau diberikan kesempatan untuk langsung diikutsertakan dalam ujian akhir, meskipun baru duduk di kelas 5. Beliau pun berhasil lulus.

Salah satu contoh beliau dalam mendidik anak ialah dengan membangunkannya secara lembut. Beliau akan membelai-belai serta mencium anak-anaknya agar mereka terbangun. Beliau menghindari cara seperti memercikkan air ke muka dan cara kasar lainnya. Beliau juga menyiapkan sejumlah makanan yang membangkitkan selera anak. Pokoknya, segala cara yang menimbulkan kesan positif  bahwa ibadah itu menyenangkan akan ditempuh. Tidak mengherankan apabila pada usia 3,5 tahun saja anak-anaknya sudah terbiasa berpuasa Ramadhan. Salah satu hal mengharukan yang beliau temui adalah ketika salah satu anaknya lulus SMA dan kemudian diterima di PTN favorit. Beliau pun mengajaknya untuk makan bersama, tetapi apa jawaban anaknya, ”Enggak Mi, saya sedang shaum Daud”. Beliau juga mendidik anak-anaknya untuk mandiri dalam belajar. Hal yang paling penting adalah semangat berprestasi. Masing-masing anak harus mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan prestasinya, khususnya terkait dengan bakat yang mereka miliki. Dalam pengembangan bakat, beliau termasuk orang tua yang demokratis. Beliau memberi anak-anaknya kebebasan memilih, tetapi harus tetap dalam koridor dan kaidah-kaidah dasar Islam. Salah satu contoh keberhasilan penerapan pola belajar Al-Qur’an adalah putranya yang kedelapan, Muhammad Ayyasy yang sudah berhasil menghafal 30 juz sejak usia 12 tahun. Kemudian putranya yang kesembilan dan kesepuluh, Walid Ghozin dan Adil Gholib yang masih berusaha keras untuk bisa seperti kakaknya, Ayyasy hafal 30 juzAl-Qur’an.

Ketika ajal menjemput, wajahnya pun tersenyum khusnul khotimah. Menandakan perjuangannya menjadi tokoh akhwat panutan tidak akan pernah terlupakan. Bagaimana seorang akhwat seharusnya sudah beliau contohkan dalam perjalanan hidupnya.

Posting Komentar

0 Komentar