Penggoda Kader PKS di TPS

Saat penerimaan surat suara

"Yeach...akhirnya Rabu 27 Juni 2018 tiba. Hari yang dinanti untuk pesta demokrasi." 

Meski setiap manusia tersedia dua pendamping setia Malaikat dan Setan dengan tugas yang berlawanan tapi tak semua sama dalam keberpihakan. Tinggal siapa yang kuat, Setan apa Malaikat.

Teng jam tujuh ceremonial di TPS 7, Kelurahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Seseorang sebut saja Bunda bertugas di sana, berpasangan dengan Yusron Ismail putra seorang kader PKS Ir.Nina Rostina. Masing masing Saksi untuk Paslon ASYIK dan OYA. Bergetar lazuardi ketika lagu Indonesia Raya mengudara. 
Saksi menandatangani hasil perhitungan suara

Usai saksikan dan jeprat-jepret kotak surat suara, 4 saksi berhamburan pergi dan (lama) tak kembali, tersisa 2 kader PKS dan  1 orang dari Demokrat. Praktis hanya mereka bertiga yang melakukan pengawalan proses pencoblosan di TPS 7, termasuk Bunda, sementara Saksi yang sejak pagi bertebaran baru  kembali ke lokasi saat perhitungan suara. 

Bundalah yang beberapa kali kritis dan bertanya jika ada persyaratan dari pencoblos tak lengkap syarat, hingga menjadi catatan khusus team KPPS setempat. 

"Sebodo amat, ini bagian amanat," pikir dia dalam hati.

Pukul tiga belas siang tiba waktunya untuk Pemilih Tambahan dan Pemilih Pindahan melakukan pencoblosan. Setelah melalui penyortiran banyak juga yang masuk dalam Pemilih Tambahan. Satu-satunya Pemilih Pindahan hanya Bunda seorang. Yang bersangkutan memungkinkan bertugas di Kota Bandung, karena Kota Cimahi sudah melakukan Pilwalkot sebelumnya. 

Berbekal Surat A5 dirinya maju ke meja petugas. Tetiba Ketua KPPS minta Petugas stop melayani. Deb...ada apa gerangan? Apakah tak cukup syarat?  Lalu Picola, demikian nama Ketua KPPS disana menyambar mike dan berkata liwat pengeras suara begini,

"Saya ingin memberikan apresiasi pada Kader PKS yang sedari pagi tekun menemani kami, membantu kami agar tak ada orang yang tak berhak memilih lolos dan mencurangi. Sebagai penghargaan tolong Sie Dokumentasi mengabadikan Kertas Suara yang akan saya serahkan dari tangan saya langsung."

Lega...tapi kini giliran Setan ambil bagian, berusaha sekuatnya menggoda untuk mencoba mempengaruhi dengan logika yang masuk akal,

"Kelebihan Kertas Suara yang kamu terima merupakan rezeki. Tak ada dosa jika kau gunakan. Bukankah satu suara untuk Oded-Yana sangat berharga."

Rupanya semua petugas KPPS tak ada yang ingat bahwa Pemilih Pindahan tak punya hak suara untuk Calon Walikota dan Wakilnya. Jika akhirnya Kertas Suara itu dikembalikan, semata karena dari awal dirinya tahu hak suaranya hanya satu.

"Apa kata dunia jika kemenangan didapat dengan cara tercela?" Ini yang menguatkan prinsipnya. 

Maka dikembalikanlah  satu Kertas Suara ke Petugas, mereka serentak tersadar dan berterima kasih sudah diingatkan. 

Ini bukan kisah tentang Bunda tapi tentang karakter semua Kader PKS yang insya Allah terbentuk melalui Liqo Pekanan, sehingga sangat menyayangkan jika kemudian ada fitnah kecurangan yang berkaitan dengan Pemungutan Suara. 
Sedih Jendral....!
 
Masih satu lagi yang perlu diungkapkan. Hingga jam 19.30 malam Yusron Kader PKS berangkat mengawal Kotak Suara hingga Kelurahan, sementara saksi yang lain yang nota bene semua laki-laki, setelah pegang bundel C1 langsung pulang. Nah lagi-lagi Kader PKS terbukti militan.

Tiga hari setelah hari pemilihan, atmosfir Jabar memanas oleh penghitungan perolehan suara. Sebentar berita tersiar ASYIK terdepan, sesaat kemudian RINDU mengalahkan. Di Jabar, dua paslon ini diberitakan simpang siur masing-masing diberitakan unggul.

Dasar C1 yang terkumpul dari para Saksi, PKS berhasil menghitung cepat dan akurat  bahwa kedua pasangan jagonya menang, sehingga wajar di kalangan Kader kesal dan ngedumal merasa tercurangi. Sangat manusiawi, meski sudah masuk prediksi.

Dalam situasi begini Alimul HS, Kabid Humas PKS Kota Bandung sigap muncul menenangkan:

"Pilgub dan Pilwalkot sudah selesai. Kader PKS terkenal sangat taat Pimpinan. Tetaplah fokus ikuti tahapan. Ingat, PKS bukan pengejar kekuasaan semata, tapi Jannah lebih mulia. Maka sabar bagian dari kekuatan kita."

Reeeep.. padam panas Kader seketika.
"Siap Komandan, terima kasih sudah mengingatkan," begitu Bunda menanggapinya. 

#FriedaKustantina
#JuruCatat 
       


 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. I also advise you to pass this test. You should notice that you have a great influence. Thanks for the good article.

    BalasHapus