Tiada lagi yang berjuang
sendirian. DPRD mendengar dan turun langsung ke masyarakat. Komitmen untuk
lebih responsif.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Bandung Asep Mulyadi merasa pilu setiap mendengar kabar anak
putus sekolah atau warga yang terbaring sakit tanpa akses medis. Itu sebabnya,
Asep memiliki harapan besar untuk meletakkan fondasi tentang kemandirian kota
yang menjadi pusat urban dan metropolitan utama di Jawa Barat. “Seharusnya
tidak ada lagi warga yang merasa berjuang sendirian," kata Asep.
![]() |
| Anggota DPRD Kota Bandung |
Ada misi besar yang ia canangkan, yakni meruntuhkan sekat dan menjadikan DPRD Kota Bandung sebagai 'Rumah Rakyat' yang sesungguhnya. Ia tak ingin parlemen dipandang sebagai benteng birokrasi yang kaku, protokoler berliku, dan jauh dari jangkauan publik. "Kami berupaya mendefinisikan secara serius bahwa kantor DPRD itu bukan sekadar kantor pejabat," ujarnya.
Asep menginisiasi terobosan ‘DPRD
Mendengar’. Program ini tak hanya formalitas administratif, tetapi sebuah
gerakan aktif di mana pimpinan dan anggota dewan didorong lebih sering turun ke
lapangan. Bagi Asep, setiap anggota dewan sebagai representasi masyarakat harus
hadir di tengah warga, menjemput aspirasi sebelum ada yang mengeluh.
![]() |
| Ketua DPRD Kota Bandung, H. Asep Mulyadi |
Upaya modernisasi kanal komunikasi melalui Humas Protokol dan digitalisasi aspirasi dilakukan. Misalnya, menjadikan media sosial bukan lagi etalase kegiatan, melainkan pintu gerbang pengaduan yang responsif. Hingga kini, sistem tersebut masih terus disempurnakan sebagai bentuk komitmen untuk lebih responsif terhadap curhat warga. "Saya ingin kami semua menjadi sosok yang bisa diajak diskusi di mana saja, bahkan di warung kopi sekalipun," kata Asep.
Warga Kota Bandung memiliki
ekspektasi begitu tinggi terhadap kota dan pemimpinnya. Dia menilai, jabatan
saat ini bukan kehormatan, melainkan amanah dan tanggung jawab yang harus
dipikul.
Asep menyoroti angka kemiskinan
dan pengangguran yang masih relatif tinggi di Kota Bandung. Sementara
Pemerintah Kota Bandung memiliki program Program Akselerasi Kewilayahan Bandung
Utama (Prakarsa Bandung Utama) yang berfokus pada perbaikan infrastruktur,
pemberdayaan masyarakat, kesehatan, dan ekonomi.
DPRD Kota Bandung mendorong agar
program yang berdampak terhadap problematika di tingkat wilayah dapat
dimaksimalkan. DPRD Kota Bandung juga terus memastikan agar setiap alokasi
anggaran dapat terserap di dalam program pemberdayaan.
Pihaknya juga akan fokus mengawal
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) mulai dari tingkat rukun warga,
kelurahan, hingga kecamatan. Meski demikian, Asep melanjutkan, tidak semua
harapan bisa terakomodasi karena pada tahun ini terdapat efisiensi, pengurangan
Transfer ke Daerah (TKD), dan hal-hal lainnya, sehingga perlu penyesuaian.
Asep mengajak semua pihak untuk
berpartisipasi dalam memastikan efisiensi dan transparansi anggaran Pemerintah
Kota Bandung. Termasuk memantau agar program tersebut benar-benar dapat
dirasakan dampaknya secara signifikan.
Menurut Asep, Kota Bandung harus
memiliki perisai yang kuat untuk menjadikan Bandung sebagai kota yang mandiri
secara ekonomi dan pangan. "Kota mandiri itu penting agar kita tidak
terus-menerus tergantung pada tekanan luar, terutama soal kebutuhan pangan
dasar," ujarnya.
Terlebih, dia menambahkan,
Bandung dan kreativitas adalah dua sisi koin yang tak terpisahkan. Itu
sebabnya, Asep ingin menjadikan komunitas kreatif sebagai motor penggerak
ekonomi.
"Kami tengah memperkuat
Peraturan Daerah (Perda) tentang Penataan Toko Modern. Tujuannya, memastikan
produk UMKM lokal mendapatkan tempat di rak-rak utama, bukan hanya pelengkap,”
kata Asep. “Termasuk mendorong pelaku UMKM agar dapat bersaing di era
digitalisasi, di pasar global.”


0 Komentar