Menyibak Banyak Kemistri Pasangan Deddy-Syaikhu




Kemistri bagi suatu pasangan sangat menentukan keharmonisan. Adakah kemistri pasangan Deddy Mizwar (Demiz) dengan Ahmad Syaikhu? Yuuk, sama-sama kita cari tahu.

1.    Makanan Kesukaan
Petai merasa istimewa ketika tahu dirinya jadi santapan kesukaan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu. 
Menu tempe-tahu juga menyertai santap siang yang disajikan sebuah warung tempat pasangan Cagub-Cawagub yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Wah...kok bisa sama selera yaa..


2.    Pengaruh Masa Kecil
Melekat kuat dalam ingatan Deddy Mizwar yang anak Betawi asli, tempat dimana dia mengaji, bermain dan tumbuh di suatu surau yang teduh. Sehingga meski berkecimpung di dunia perfileman tak lepas nilai-nilai agama dan iman tertancap dalam. Baginya dimanapun berkiprah harus bernilai dimata Allah. Termasuk bidang yang digeluti sebelum memangku jabatan Wakil Gubernur Jawa Barat,  film dan sinetron yang dihasilkan harus bernafaskan ibadah. Meski dunia akting membuatnya sangat tenar, namun Si Raja Bonar tetap komitmen dengan yang telah jadi ikrar.
 
Masa kecil laki-laki kelahiran Ciledug Kabupaten Cirebon ini mengenal Islam langsung dari kedua orang tuanya disamping dihadirkan pula guru agama ke rumah. Dahaga Ahmad Syaikhu akan ilmu agama terpuaskan dengan ilmu yang ditularkan para kiyai dari Pondok Buntet Cirebon. Maka tak heran sepanjang perjalanan hidupnya banyak berkecimpung dikegiatan bernuansa religi. Dari yayasan ke yayasan dia torehkan pengabdian dan pelayanan. Menjadi aktivis dakwah suatu keniscayaan yang dia yakini perlu komitmen tinggi dan penuh perjuangan. Pendidikan Lemhanas sewaktu duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS menjadi bekal berharga dalam memangku Jabatan Wakil Walikota Bekasi saat ini.
Singkatnya, mereka berdua sama-sama dibesarkan di lingkungan religius.



3.    Kepekaan Perasaan
Nilai-nilai agama yang telah terukir sejak kecil, melembutkan hati dan gampang peduli. Sanubari seperti ini wajib dimiliki bagi seseorang yang mendapat amanah menjadi Kepala Daerah. Dia harus pastikan warga yang menjadi tanggung jawabnya terhindar dari sifat semena-mena dirinya. Ditengah sempitnya waktu, tetap berupaya menghibur dan berbagi doa bagi warga yang dirawat. Begitulah  jika kepekaan sudah terasah sejak bocah.



4.     Hatinya Selalu Terpaut Keluarga
Keluarga bagi Deddy dan Syaikhu tetap nomor satu. Meski penat dan kadang hanya tersisa waktu sesaat, sempat tak sempat harus berbagi canda dan bercengkerama dengan orang-orang tercinta, hingga lelah pun sirna. Berarti keduanya penyayang keluarga.


  

5.     Bagaimana Perasaan Mereka Mendapati Jomblo ketemu Jodo?
Kebahagian sebagai Kepala dan Wakil Kepala Daerah, tumpah manakala menyaksikan satu demi satu warganya menikah. Jumlah kaum jomblo berkurang, siapa yang tak senang? Bukankah dengan menikah satu pintu maksiat tertutup rapat? Mereka punya orientasi yang sama terhadap warganya masih sendiri tak berpasangan.



6.     Mensikapi Jabatan yang Diemban
Bergelimang kekuasaan bagai memegang bara api, jika tak hati-hati bisa mencelakakan diri. Itu sebabnya nasihat ulama dibutuhkan sangat setiap saat. Harapan mereka hingga akhir jabatan tetap pegang amanat, ujungnya selamat dunia akhirat. Bagi mereka ulama itu pewaris ambiya.


7.    Kesehatan Tetap Utamakan
Pepatah usang tetap mereka pegang, "Mensana in corpore sano" yang kita semua tahu artinya bahwa: "Jiwa yang sehat ada dalam tubuh yang sehat" Sesibuk apapun alokasikan waktu buat mencari cucuran keringat. Wow...pantas senantiasa mereka terjaga sehat.



Jika akhirnya mereka dipertemukan Gerindra dan PKS dalam satu paket  Cagub (Calon Gubernur) dan Cawagub (Calon Wakil Gubernur) Jawa Barat, tentu telah melewati step by step penyaringan. Koalisi partai untuk Jabar Kahiji insya Allah sangat solid dan mesin kedua partai sudah mulai digerakkan. Militansi kader PKS jangan pernah diragukan. Waspada syarat utama. Jangan sekali-kali lengah oleh tak-tik memecah belah. Galang terus kekompakan dan yang terpenting meminta doa restu dan dukungan seluruh warga Jawa Barat, melalui gerakan berkhidmat pada rakyat. Terakhir dan tak kalah penting, ridlo Allah harus tercurah, karenanya terus jaga kepantasan meraih kemenangan yang barokah. Begitulah yang kader-kader pahami dalam sebuah perjuangan. 

(Frieda Kustantina, Juru Catat)










Posting Komentar

0 Komentar