Top Ad unit 728 × 90

Mapay Lembur: Pengakuan Seorang Nasrani


Mapay Lembur di Cisaranten Endah, Arcamanik

Pagi itu kira-kira pukul 10.30. Matahari telah naik. Cukuplah untuk membuat kami kegerahan. Tetapi itu tidak menyurutkan langkah kami. Berbekal beberapa gulung kalender, poster, stiker, dan brosur, kami tancap gas menuju daerah Sukasari. 


Katanya sih daerah yang tidak ada kadernya. Kami 5 orang, 4 orang mahasiswa dan 1 orang ummahat. Kami bagi tugas, 2 orang menempel stiker, 3 orang masuk ke gang dan membagikan kalender beserta stiker dan brosur ke rumah-rumah. Saya dan seorang teman, juga ummi kebagian membagikan kalender ke rumah-rumah. 

Daerah Sukarasa memang cukup sepi. Banyak rumah yang tertutup pintunya, sehingga kami kadang harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam untuk memastikan apakah ada orang atau tidak. Jika tidak ada, kami beralih ke rumah yang lain. 

Selama berkeliling saya agak kasihan melihat ummi yang saat itu berjalan sambil menggendong putranya. Saya menawarkan biar kami saja yang melakukan, ummi bisa menunggu di tempat kami memarkirkan motor. 
Tetapi satu jawaban yang membuat saya takjub, dulu ketika Direct Selling pemilihan walikota, ummi bahkan sedang hamil tua. Jadi lebih berat daripada kondisi sekarang. Ternyata benar ya kata orang, tidak sering mengambil rukhsakh membangun militansi. Wah saya jadi tambah semangat!

Ada satu hal menarik sekali bagi saya yang ingin saya bagikan kepada ikhwah fillah ketika berkeliling. Ini pengalaman pertama bagi saya. Saat itu saya sedang menunggu dua teman yang tengah menempel poster di dekat pos ronda. Saya berdiri di depan sebuah rumah. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara sapu lidi. Sepertinya ada yang sedang menyapu halaman. 
Lalu pintu gerbang dibuka. Keluarlah seorang wanita muda seperti dugaan saya tadi, menyapu halaman. Ekspresi wajahnya datar. Malah lebih ke judes. Saya agak ragu untuk memberikan kalender yang ada di tangan. Tetapi saya berbisik “apa yang kamu takutkan?”. Akhirnya saya memutuskan untuk memulai percakapan seperti sebelumnya.

“Mba, sudah punya kalender 2013?”
“Belum”. Jawabnya singkat.
“Ini saya punya kalender mbak. Barangkali mau. Silahkan diambil.”
Mbak itu terdiam sesaat.
“Gratis kok mbak.” Sambung saya sambil menyodorkan satu buah kalender.
Mbak itu langsung masuk ke dalam. Sepertinya memberikan kalender itu kepada seseorang. Lalu terdengar suara tapak kaki setengah berlari. Rupanya mbak yang tadi.

“Teh, masih ada kalendernya? Boleh minta lagi?” Tanyanya sembari senyum.
“Oh ada, ada silahkan diambil.” jawabku girang.
Mbak itu mengambil kalender dengan gembira lalu masuk lagi ke dalam seperti sebelumnya. Lagi-lagi Mbak itu keluar. Tetapi kali ini bukan meminta kalender. Wajahnya sumringah. “Teh, masuk, si Ibu mau ngobrol”.

Deg. Saya kaget. Menyadari rumah siapa yang saya masuki. Saya melihat hiasan pita hijau, kuning emas, dan merah menghiasi dinding. Beberapa hiasan natal. Aduuuh, saya masuk rumah seorang kristiani. Kira-kira si ibu bakal marah gak ya? Aduuh. Itulah pikiran saya saat itu. Takut. Takut dimarahi lebih tepatnya. 
Namun memoar kisah seorang kader PKS yang DS ke rumah petinggi PDIP yang pernah diceritakan murobbiyah membuat saya sedikit berani. Saya pun masuk. Di hadapan saya berdiri seorang wanita paruh baya dengan kalung salib besar di lehernya. Tetapi bukan wajah masam yang terpasang. Senyum ceria lah yang saya temukan di paras wanita itu.

“Teh, ini betul kalendernya dibagi-bagikan? Kok bisa gratis sih?”
“Iya bu, ini dari pak Gubernur.”
“Oh pak gubernur nyalon lagi? Wah saya seneng betul lo sama pak Aher.”
“Wah, kenapa bu?”
“Iya soalnya banyak keunggulan dan betul-betul saya bisa rasakan manfaatnya. Jadi saya seneng banget lihat berita-beritanya.”
“Iya bu. Jangan lupa bulan februari 2013 ya bu.”
“Pasti Teh. Pasti. Oh iya Teh, masih ada kalendernya?”
“Oh ada bu, masih banyak. Mau lagi bu?”
“Iya Teh, saya mau bagikan ke anak-anak kosan, dan akan saya suruh mereka untuk pilih Pak Aher.”
Merinding.

Saya pun pamit. Dan masih dengan semangatnya sang ibu mengantarkan kami sampai ke pintu gerbang. Asli. Saya merinding mendengar pengakuan langsung dari seorang kristiani tentang kepemimpinan Ustadz Aher. Maka tidak heran juga kenapa PDS mau berkoalisi dengan PKS. Sungguh, Islam itu Rahmatan lil ‘alamin. Pengalaman berharga yang saya dapatkan hari ini bersama teman-teman.

-Yeni Rahmadhani Chaniago/ Kader PKS Sukasari-
-bersama Okti Farriha, Gia Juniar, Iros Herminawati, dan Ummi-

Mapay Lembur: Pengakuan Seorang Nasrani Reviewed by PKS Bandung on 06.56 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.