Anggota DPRD Kota Bandung drg.
Susi Sulastri menyoroti maraknya kekerasan di kalangan pelajar yang kembali
menjadi perhatian publik setelah meninggalnya seorang siswa SMA Negeri 5
Bandung akibat dugaan pengeroyokan.
Menurut Susi, peristiwa tersebut
bukan sekadar persoalan individu, melainkan menjadi refleksi serius bagi
seluruh pihak terkait kondisi pendidikan karakter, pengawasan sosial, hingga
kesehatan mental remaja saat ini.
“Saya ingin mengucapkan
belasungkawa atas meninggalnya Ananda Muhammad Fadhli Arja Subrata. Ini menjadi
pukulan yang sangat keras dan menyedihkan bagi kita semua. Kasus ini bukan
hanya peristiwa individual, tetapi bagian dari persoalan yang lebih besar terkait
pembentukan karakter, pengawasan sosial, dan kesehatan mental remaja,” kata
Susi.
![]() |
| drg. Susi Sulastri |
Ia menegaskan, sekolah sejatinya tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang membangun akhlak, empati, dan kedisiplinan siswa.
“Sekolah harus menjadi tempat
yang nyaman dan ramah bagi anak-anak. Ketika terjadi kekerasan seperti ini,
artinya ada aspek pendidikan karakter yang perlu kita evaluasi bersama,”
ujarnya.
Susi mengatakan, DPRD Kota
Bandung terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan, termasuk
mendorong terciptanya sekolah ramah anak dan bebas dari praktik perundungan
maupun intimidasi.
“Kami sudah meminta Dinas
Pendidikan untuk mengawal sekolah ramah anak sehingga tidak ada bullying,
intimidasi, ataupun tekanan terhadap kelompok tertentu. Ini menjadi tanggung
jawab bersama, bukan hanya sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat,” katanya.
Menurut dia, persoalan kekerasan
pelajar tidak bisa hanya diselesaikan setelah kejadian terjadi. Pemerintah
daerah dan DPRD perlu menghadirkan langkah preventif melalui kebijakan yang
berkelanjutan.
Ia menyebut ada sejumlah langkah
konkret yang perlu diperkuat, mulai dari pendidikan karakter, penguatan layanan
bimbingan konseling (BK), pengawasan terhadap potensi perundungan, hingga
kolaborasi antara sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, dan aparat kewilayahan.
“Sekolah jangan hanya fokus pada
pencapaian akademik, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan mental
anak-anak,” ucapnya.
Susi juga menilai ketahanan
keluarga menjadi faktor penting dalam mencegah perilaku menyimpang pada remaja.
Menurutnya, orang tua perlu membangun kedekatan emosional agar anak merasa
nyaman untuk bercerita tentang persoalan yang mereka hadapi.
“Yang paling penting bukan hanya
memastikan anak berangkat sekolah atau mendapatkan nilai bagus, tetapi
bagaimana membangun kedekatan emosional dengan anak. Ketika anak merasa
didengar dan nyaman bercerita di rumah, itu menjadi benteng paling aman bagi mereka,”
katanya.
Selain itu, DPRD juga mendorong
penguatan anggaran untuk kegiatan positif bagi pelajar, seperti olahraga,
kepemudaan, serta fasilitas pendidikan yang dapat mendukung kreativitas dan
pengembangan potensi anak.
Susi menambahkan, pendekatan
terhadap remaja saat ini juga harus menyesuaikan perkembangan zaman. Menurut
dia, anak-anak sekarang telah terpapar berbagai konten digital, termasuk yang
mengandung unsur kekerasan.
“Tanggung jawab kita adalah
mendekati mereka dengan cara yang berbeda. Anak-anak perlu dibina, dilindungi,
dan dikuatkan, termasuk melalui nilai-nilai keimanan agar mereka mampu
menghadapi berbagai pengaruh negatif,” tutur Susi.
.jpg)
0 Komentar