Anggota Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS, Eko Kurnianto, menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah daerah dalam mendorong program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Sarimukti. Program tersebut dinilai sebagai terobosan strategis dalam menangani persoalan sampah di wilayah Bandung Raya.
Eko Kurnianto, Anggota Panitia Khusus (Pansus) LKPJ DPRD Kota Bandung dari Fraksi PKS.
Menurut Eko, kehadiran PSEL Sarimukti tidak hanya membantu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mampu mengubah sampah menjadi sumber energi yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat. Ia menilai, inisiatif ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan solusi lingkungan yang berkelanjutan.
Namun demikian, Eko
mengingatkan agar pendekatan pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada
hilir. Ia menegaskan pentingnya penyelesaian persoalan sampah dari hulu melalui
perubahan perilaku masyarakat.
“Program Kang Pisman
(Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) harus tetap menjadi gerakan utama. Ini
fondasi penting dalam membangun budaya sadar lingkungan sekaligus menekan
volume sampah sejak dari sumbernya,” ujarnya.
Eko menilai, keberhasilan
PSEL sangat bergantung pada efektivitas pengelolaan sampah di tingkat hulu.
Tanpa pemilahan dan pengurangan sampah dari masyarakat, beban pengolahan di
fasilitas PSEL akan semakin berat dan tidak optimal.
Ia pun mendorong adanya
sinergi antara penerapan teknologi melalui PSEL dan penguatan gerakan Kang
Pisman sebagai upaya terintegrasi dalam menyelesaikan persoalan sampah secara
komprehensif.
Selain menyoroti isu
lingkungan, Eko juga memberikan catatan terhadap kinerja Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) dalam LKPJ Wali Kota Bandung Tahun Anggaran 2025.
Berdasarkan data yang dipaparkan,
realisasi anggaran Bagian Perekonomian mencapai 93,56 persen atau sebesar
Rp2,41 miliar dari pagu Rp2,58 miliar.
Meski penyerapan anggaran
tergolong baik, ia menekankan bahwa keberhasilan seharusnya diukur dari dampak
nyata terhadap kesehatan BUMD dan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah
(PAD).
Eko mengungkapkan,
terdapat disparitas kinerja antar BUMD. PT Bandung Infra Investama (BII)
mencatat laba bersih Rp20,45 miliar dengan setoran dividen Rp7,87 miliar.
Sementara Perumda
Tirtawening membukukan laba Rp8,20 miliar dan menyetor Rp4,84 miliar ke kas
daerah. Keduanya masuk kategori sehat.
Di sisi lain, Perumda
Pasar Juara masih mengalami kerugian sebesar Rp17,91 miliar dan belum
memberikan kontribusi terhadap PAD. Kondisi ini, menurut Eko, menjadi perhatian
serius yang harus segera ditangani.
“Bagian Perekonomian
harus lebih progresif dalam pengawasan dan pembinaan. Diperlukan percepatan
strategi penyehatan BUMD, pengembangan model bisnis yang adaptif, serta
optimalisasi aset yang belum tergarap,” tegasnya.
Ia juga menyoroti rencana
perubahan status hukum Bank Bandung menjadi Perseroda Bank Perekonomian Rakyat.
Eko meminta agar kajian
dan regulasi yang disusun benar-benar memperkuat layanan, khususnya dalam
pengembangan perbankan digital bagi masyarakat.
Di akhir pernyataannya,
Eko menegaskan komitmen Fraksi PKS untuk terus mengawal penggunaan anggaran,
termasuk dana kajian BUMD sebesar Rp865,47 juta pada 2025, agar menghasilkan
kebijakan yang konkret dan berdampak nyata.
0 Komentar