Angka Kemiskinan Diklaim Turun, DPRD Minta Verifikasi Data Lebih Akurat

 Klaim penurunan angka kemiskinan di Kota Bandung mendapat sorotan dari DPRD. Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Susi Sulastri, menilai data tersebut perlu dikaji ulang secara menyeluruh agar benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.

Menurut Susi, penurunan angka kemiskinan tidak bisa hanya dilihat dari data administratif semata. Ia menekankan pentingnya verifikasi langsung, terutama setelah adanya forum bersama antara Organisasi Jasa Sosial (OJS), Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan beberapa waktu lalu.

pemukiman di salah satu daerah kota Bandung

“Data itu harus dicek kembali. Apakah benar terjadi penurunan atau tidak. Jangan sampai hanya terlihat turun di angka, tapi realitanya masyarakat masih kesulitan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Ia meminta Dinas Sosial Kota Bandung untuk melakukan verifikasi ulang secara lebih teliti dan objektif. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pergeseran status masyarakat dalam kategori desil kesejahteraan.

Susi menjelaskan, terdapat temuan di lapangan di mana warga yang sebelumnya masuk kategori desil rendah (desil 1–5) tiba-tiba naik ke desil 6 hingga 8. Namun, setelah ditelusuri, kondisi ekonomi mereka tidak mengalami perubahan signifikan.

“Harus dilihat secara bijak. Apakah perpindahan desil itu memang sesuai dengan realita atau tidak,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus seorang janda yang menghidupi dua cucunya. Awalnya, keluarga tersebut masuk dalam kategori desil 3, namun setelah dilakukan verifikasi, statusnya berubah menjadi desil 6 bahkan 7. Hal ini didasari anggapan bahwa yang bersangkutan memiliki usaha katering.

“Padahal faktanya bukan katering, hanya jualan masakan rumahan karena tidak punya pekerjaan tetap. Ini yang harus diluruskan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Susi, berpotensi menyebabkan masyarakat kehilangan akses bantuan sosial, meskipun secara nyata mereka masih membutuhkan. Karena itu, ia menegaskan pentingnya akurasi data agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.

“Jangan sampai kita sudah memverifikasi, tapi masyarakat yang sebenarnya masih perlu bantuan justru terlewat,” katanya.

Lebih jauh, Susi juga menilai masih banyak realitas sosial di Kota Bandung yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Oleh karena itu, ia mendorong Pemkot Bandung untuk melihat persoalan kemiskinan secara lebih komprehensif dan objektif.

Dalam upaya menekan angka kemiskinan, Komisi IV DPRD Kota Bandung meminta pemerintah kota melalui Dinas Sosial untuk memperkuat program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya melalui pelatihan keterampilan serta pemberian bantuan langsung yang tepat guna.

“Program pelatihan dan bantuan itu penting, supaya masyarakat bisa mandiri dan menghasilkan penghasilan dari kemampuan yang mereka miliki,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti menurunnya daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Menurutnya, situasi saat ini masih penuh ketidakpastian, terutama terkait potensi kenaikan harga bahan pokok dan energi.

“Sekarang memang BBM belum naik, tapi masyarakat harus bersiap. Kalau harga kebutuhan pokok naik, tentu akan semakin memberatkan,” katanya.

Susi mengingatkan agar pemerintah dapat mengantisipasi kondisi tersebut sejak dini. Ia menilai masyarakat sebenarnya sudah terbiasa hidup sederhana, sehingga yang diperlukan adalah kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi mereka.

“Masyarakat kita tidak perlu diajari hidup sederhana, karena mereka sudah menjalaninya. Yang penting bagaimana pemerintah memastikan mereka bisa bertahan dalam kondisi apapun,” ujarnya.

Ia pun mendorong Pemkot Bandung untuk rutin turun ke lapangan guna memantau harga komoditas, khususnya kebutuhan dasar. Dengan demikian, pemerintah dapat memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa kenaikan harga, jika terjadi, tetap dalam batas yang wajar.

“Kalaupun ada kenaikan, jangan sampai signifikan dan memberatkan. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian kepada warga,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar