Ketua DPRD Kota Bandung Asep
Mulyadi menilai sejumlah persoalan klasik perkotaan masih menjadi tantangan
utama dalam satu tahun kepemimpinan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Tiga isu
yang menjadi perhatian utama adalah kemacetan, banjir, dan pengelolaan sampah
yang dinilai belum sepenuhnya tertangani secara tuntas.
Asep menyebut tiga persoalan
tersebut sebagai “tiga dosa besar” yang selama ini membayangi kualitas hidup
warga Kota Bandung. Menurut dia, pemerintah kota perlu menghadirkan langkah
yang lebih berani dan sistematis agar permasalahan tersebut tidak terus berulang
setiap tahun.
Dalam hal pengelolaan sampah,
DPRD mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk memperkuat pendekatan
desentralisasi pengolahan sampah di tingkat kewilayahan. Upaya ini dinilai
penting agar pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada tempat pembuangan
akhir (TPA).
![]() |
| Sampah di Kota Bandung |
“Pemkot perlu lebih berani melakukan desentralisasi pengolahan sampah di tingkat kewilayahan, bukan hanya mengandalkan TPA. Dengan begitu, volume sampah yang dibuang ke TPA bisa berkurang secara signifikan,” ujar Asep.
Sementara itu, persoalan banjir
dan kemacetan dinilai membutuhkan koordinasi lintas wilayah yang lebih kuat.
Asep menilai Kota Bandung tidak bisa bekerja sendiri dalam menyelesaikan dua
persoalan tersebut karena berkaitan erat dengan dinamika kawasan Bandung Raya.
Selain itu, DPRD juga menilai
bahwa hingga saat ini belum terlihat terobosan besar yang mampu mengubah
kondisi secara drastis bagi kualitas hidup masyarakat sehari-hari.
“Upaya memang sudah ada, tetapi
belum terlihat terobosan yang bersifat game changer. Rakyat membutuhkan solusi
yang terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat mereka keluar
rumah di pagi hari,” kata dia.
Di sisi lain, DPRD juga
mengingatkan Pemerintah Kota Bandung agar lebih waspada terhadap potensi
tekanan ekonomi, khususnya terkait fluktuasi harga pangan global yang dapat
memicu inflasi di tingkat lokal. Untuk itu, DPRD mendorong penguatan ketahanan
pangan kota melalui program urban farming yang lebih terintegrasi.
Menurut Asep, langkah tersebut
dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga pangan
sekaligus meningkatkan kemandirian pangan di tingkat perkotaan.

0 Komentar