Top Ad unit 728 × 90

Antara 200 Tahun Peperangan, Optimisme, dan Lemah Tak Selalu Kalah


Pay attention to the little things. Great doors swing on little hinges. - (Tayo Adeyemi)
Perhatikan hal-hal kecil. Pintu yang besar mengayun pada engsel yang mungil (Tayo Adeyemi)

sumber gambar: gopixpic.com

Seorang ahli ilmu politik bernama Ivan Arreguin-Toft menghitung dan meneliti perang yang terjadi di dunia selama 200 tahun terakhir. Perang kerap kali tidak berjalan seimbang. Sering kali pasukan yang kecil harus menghadapi pasukan besar. Kerap kali persenjataan seadanya harus berhadapan dengan artileri yang amat canggih. Acap kali negara lemah berhadap-hadapan dengan negara kuat. Saat ditanya, dari 200 pertempuran tersebut, berapa persen kah pasukan yang kuat menang? Logika kita akan berkata, tentu 100%, tentu seluruh perang akan dimenangi oleh pasukan yang kaut, negara adidaya, persenjataan lengkap. Namun penelitian Ivan Arreguin-Toft berkata lain. Jawabannya adalah, dari sejak 200 tahun, 71,5 % dimenangi oleh pasukan yang kuat. Artinya sekitar sepertiga kurang sedikit dari total pertempuran dimenangi oleh pasukan yang lemah. (Dari Buku David And Goliath, karya Malcolm Gladwell)

Itu jumlah yang cukup mengejutkan. Ternyata cukup sering juga pasukan yang lemah mengalahkan pasukan yang kuat. Hal tersebut dikarenakan pihak yang lemah sering kali punya kelebihan yang tidak dimiliki pihak kuat. Bila kita mengetahuinya dan mampu memanfaatkannya, akan menjadi sumber kekuatan untuk mengalahkan si kuat. Sebagaimana kisah kura-kura yang balapan dengan kelinci. Kecepatan kelinci menjadi keunggulan namun juga menjadi jebakan rasa sombong. Lambatnya kura-kura mungkin adalah kelemahan, namun itu jadi kelebihan tersendiri yang membuat kura-kura punya mental pejuang dan sabar. Kelemahan yang sekaligus kelebihan itulah yang membuat kura-kura menang.

Saat kita dalam kondisi yang tidak menguntungkan, perasaan yang mungkin muncul adalah putus asa, putus harapan, hilang semangat dan perasaan negatif lainnya. Padahal salah satu sikap yang tergolong dosa adalah putus harapan

“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.” (Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir; lihat Majma’ Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104)

Fakta di atas sebagai bukti, bahwa selemah apapun kondisi kita, kita harus tetap optimis, dan berbaik sangka kepada Allah. Banyak kondisi underdog mengalahkan lawan digdaya. Saat uang kita sedikit, saat pekerjaan kita tidak sesuai harapan, kondisi fisik yang kurang, intelektual kita yang seadanya, nilai pelajaran yang jelek, dan segala kekurangan kita itu, tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Harapan itu masih ada, dan akan selalu ada. Kita terus berusaha dan terus berharap Allah memberikan pertolongan, sehingga kita mampu berhasil.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman,“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Sejatinya segala daya upaya adalah titipan dan milik Allah. Kita hanya dipinjamkan dan menggunakan titipan itu untuk ibadah dan kebaikan. Bila kita menganggap upaya, kepintaran, keahlian adalah milik kita dan karena usaha kita, kita akan stress. Karena kita berjuang sendirian. Namun bila kita merasa bahwa segala daya upaya adalah milik Allah, kita akan lebih optimis. Kita yakin akan bisa berhasil, karena kita bergantung pada zat yang Maha Kuat, Allah SWT. Seakan-akan kita bekerja sambil mengandlakn pertolongan Allah.


“Tidak ada bagi kalian selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at.” (As-Sajdah: 4)
Antara 200 Tahun Peperangan, Optimisme, dan Lemah Tak Selalu Kalah Reviewed by Anak Panah yang Terbang Melesat on 13.32 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.