Top Ad unit 728 × 90

Mengutuk Hujan (Bagian II)


Terasa seperti melayang di udara, tanpa beban, tanpa rasa. Namun tiba-tiba, riuh rendah suara keramaian terdengar dekat, dekat dan semakin mendekat. Tercium aroma tajam menyengat di hidungku. Perlahan ku coba membuka mata. Berat dan sangat berat sekali. Serasa ada perekat yang menempel di sana. Ku coba menggerakkan tanganku tuk mengingkirkan apapun itu yang memberatkan mataku. Tak berdaya, sepetinya energiku hanya cukup untuk mendengar dan merasakan saja.

Aku tak berhenti mencoba. Aku berada dibatas normal untuk tidak putus asa. Terasa seperti mengangkat beban puluhan kilogram. Perlahan aku berhasil membuka mata. Remang-remang lalu gelap gulita. “Nak... nak... jangan takut, kamu harus kuat ya... Bunda selalu ada di sini”. Suara itu terdengar begitu lembut, lalu hilang disapu angin. Aku merasakan ada butiran hangat yang jatuh ke wajahku. Butiran itu kemudian berubah menjadi sangat dingin, lalu kering dan lenyap seketika. Ada sesuatu yang kurang saat ini. Yaahh... Aku belum mendengar suara ayah sedari tadi.
Butiran hangat itu jatuh berkali-kali di wajahku. Seperti kekuatan super yang mentransfer energi baru. Tanganku bisa digerakkan dan langsung meraba sosok yang ada di dekatku. “Aku berteriak sebisaku, “Bundaaa...!!!”. Sia-sia... Sepertinya bundaku hanya mendengan suara bisikan.
Ternyata tiga hari telah berlalu. Alhamdulillah aku berhasil melawan masa kritisku, begitu yang disampaikan dokter kepada bunda. Banyak hal yang sudah aku lewatkan dalam waktu tiga hari itu. Bunda bercerita sangat banyak. Aku hanya diam, antara berada di dunia nyata atau masih berada di dunia bawah sadar.
Di sinilah peristiwa naas itu terjadi. Saat ayah keluar dari gerbang, sebuah motor yang sedang melaju kencang tak lagi terkontrol karena jalanan begitu licin. Itulah makan malam terakhir ayah bersama keluarga. Aku masih merasakan ciuman ayah di dahi dan ubun-ubun ku. Aku tidak mengerti kenapa ayah menciumku berkali-kali. Ternyata ayah ingin menyampaikan itu adalah sebuah perpisahan. Tuhan... seandainya saja aku tahu. Aku pasti akan berkata “ ayah jangan sekarang!”
Sejak peristiwa itu, aku tak bisa melanjutkan pendidikanku ke universitas favorit karena kurangnya biaya. “Sungguh aku sangat benci hujan!!” itu kalimat yang selalu ku ulang berkali-kali. Melihat kelakuanku yang tidak karuan, bunda sangat khawatir. Beliau mendaftarkanku ke pondok penghafal Quran. Setengah tahun di sana aku hanya membuang-buang waktu tanpa melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh santri pada umumnya. Sampai suatu ketika aku sadar. Ada seseorang di sana yang sangat sabar dengan tingkah dan laku ku. Beliau tak lain adalah guruku. 
***
Tak terasa dua tahun telah berlalu. Begitu banyak peristiwa yang tidak pernah di duga datang silih berganti. Melalui perantaraan guruku, kini aku menjadi orang yang sangat optimis menjalani hidup. Aku tak mengerti terbuat dari apa hati hati mereka. Bunda dan Si ibu guru yang sangat baik hati. Mungkin seperti air putih yang berada dalam gelas yang bening. Saat ada benda yang dimasukkan ke dalamnya walaupun masih sejenis air namun berwarna berbeda maka sangat mudah terlihat perubahannya. Aku hanya bisa menduga. Yang jelas hati beliau itu seperti alat pendeteksi yang sangat canggih.

Ini bukan kebetulan, aku yakin dan sangat yakin sekali. Karena bukan satu atau dua kali tapi berkali-kali. Saat hati ini terasa sempit dan keputus asaan terbesit di hati. Jauh atau dekat perempuan cantik paruh baya ini tahu. Ketika orang lain banyak bertanya dan bicara. Beliau itu seperti sudah mengenalku sangat lama, tidak menanyakan sepatah katapun. Hanya setia menemani dalam keheningan. Terkadang, hal ini membuatku jengkel. Kenapa ada orang seperti beliau di tempat seperti ini? kenapa dia bisa mengerti apa yang ku butuhkan?. Namun tak bisa dipungkiri. Aku merindukan itu semua. Perempuan cantik itu membuatku merasakan suasa rumah.

Kombinasi kepribadian ayah dan bunda diborong perempuan ini. Entahlah...  aku tak bisa menjelaskannya dan samasekali tidak mengerti. Kenyataannya aku nyaman berada di dekat beliau. Nasehat-nasehatnya itu bukan hanya menempel di hati tapi menghujam kerelung jiwa lalu terpatri dalam laku. Sedikit banyak atau mungkin sangat banyak perubahan yang terjadi padaku tak terlepas dari peran beliau. Dan aku sampai tidak bisa menghitung berapa banyak lagi keanehan. Yaah.. aku menyebutnya keanehan. Aku melakukan banyak hal terkadang karena beliau. Mungkin seperti kata orang; “Melakukan kebaikan awal-awalnya karena terpaksa, lama-lama terbiasa dan akhirnya jadi kebiasaan”.

Jujur... semakin dekat dengan beliau semakin bertambah rasa cinta kepada Al quran. Semakin dekat kepada Rabb yang Maha Dekat. Semakin akrab dengan kebaikan. Aku tidak tahu bagaimana bisa mendeskripsikan semua itu. Rasa-rasanya kata-kata itu tidak cukup untuk mewakili apapun yang telah diberikan beliau. Setiap hari seperti punya lembaran dan harapan baru untuk memulai hariku.

Al quran menjadi semangat baru yang mengisi hari-hariku. Sekarang aku sudah berhasil masuk perguruan tinggi favorit dengan beasiswa sebagai penghafal Al-quran. Kesantunan dan kesabaran guru dan ibuku membawa diriku menjadi aku yang sekarang. Hidayah itu datang bukan tanpa sebab. Selalu ada peran hamba-hamba yang tulus dan ikhlas berdoa mengharap kepada Rabbnya. Bunda madrasah pertamaku, ustazah yang selalu membimbingku dan entah siapa  di luar sana yang selalu mendoakanku. Sungguh aku tak dapat membalas. Hanya doa yang terucap semoga keberkahan selalu menyelimuti mereka.

“Ayah... Aku menunggu saat itu tiba, telah ku simpan sebuah mahkota untukmu. Sampai bertemu di surga!”
“Hujan... terima kasih kau telah mengantarkanku kepada Al quran, kalam Allah yang Maha Agung yang mengajariku arti hidup dan kehidupan”


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja kita mengalami pengalaman buruk yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sisi mata uang saja. Bila kita berani melihat ke sisi lain, kita akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda.
Kita tidak harus menjadi orang yang selalu tersenyum atau menampakkan wajah ceria. Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya tertampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk di pandang dengan mengerutkan alis.
Setiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menuju samudra, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke puncak-puncak gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

By : Fauziah Humaira
*) Baca bagian pertamanya di sini
Mengutuk Hujan (Bagian II) Reviewed by PKS Bandung on 05.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.