Kawan-kawan yang penyabar
Hidup di Bandung hari
ini adalah hidup penuh dengan kegelisahan sekaligus membingungkan. Dulu
saya berasumsi bahwa seiring detik, menit dan jam kehidupan yang
bergerak ke arah masa depan, tentunya hadir pula kemajuan dan
kegembiraan mengiringi hidup kita di kota ini. Ternyata saya terlalu
naif. Seiring waktu, justru penggalan demi penggalan kemunduran dan
kesemrawutan hadir membombardir nalar dan mata kita. Ada pertanyaan
penting yang setiap hari menggugat kita: Mau dibawa kemana hari esok dan
masa depan kita?
Berita tentang korupsi, setiap hari, adalah
wajah buruk dari mundurnya peradaban negeri ini. Negeri dan kota ini
dimiskinkan oleh mereka-mereka yang mencuri. Tanpa sadar mereka telah
mencuri masa depan anak cucu mereka sendiri. Hidup tanpa visi,
mengakibatkan lingkungan kota ini pun perlahan hancur atas nama
lokomotif ekonomi. Kota Bandung memang sedang sakit. Ciri kota sakit
adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis dan kaum
intelektualnya apatis. Kita tengah terjebak disana.
Bandung
hari ini adalah Bandung yang padat, ramai juga mencemaskan. Kita semua
berlari berebutan di atas kapasitas infrastruktur kota yang sama seperti
dua puluh tahun lalu. Setiap kehadiran pembangunan baru akan mendesak
badan kota ke arah kesakitan. Setiap musim penghujan kita dicemaskan
oleh banjir melanda jalanan Bandung. Setiap akhir pekan kita sering
harus mengalah kepada tamu-tamu yang berdatangan. Ada kelelahan demi
kelelahan hadir di sudut sanubari kita. Sampai kapan?
Bandung
hari ini adalah Bandung yang sakit dan sesak. Sepanjang mata memandang
yang terlihat adalah kesemrawutan dan pelanggaran aturan. Pelanggaran
menjadi hal yang lumrah di kota ini, karena semua berjamaah
melakukannya. Bandung hari ini ibarat sebuah rumah kecil yang sangat
sesak. Bandung dahulu hanya diimajinasikan sebagai ruang kehidupan bagi
300 ribu jiwa. Dengan migrasi dan ledakan penduduk sebanyak 2,4 juta
hari ini maka bermukim di Bandung adalah sebuah perlombaan survival.
Tanpa kendali kota ini akan meledak. Kota yang stres akan melahirkan
generasi yang stres.
Kawan-kawan yang bersemangat,
Ingatlah
Sumpah Pemuda. Dahulu, 1928, pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai
belenggu penjajahan karena kita dihinakan oleh yang lain. Sekarang kita
dihinakan oleh ulah kita sendiri. Karenanya di jaman yang sakit ini,
kita harus bergerak bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa
depan. Kita harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Kita harus peduli
untuk menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian kita mampu
mendorong lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru. Ya
kawan-kawan, kita bangun Indonesia Baru melalui sebuah rumah bernama
Bandung. Dari Bandung untuk Indonesia.
Saat kita kecewa kita tidak
boleh membisu. Saat kita dihinakan kita tidak boleh diam. Kita harus
bergerak cepat mencari jalan baru. Mengubah dunia sudah tidak bisa
dilakukan sendirian. Jalan baru mengubah dunia itu bernama kolaborasi.
Kolaborsi adalah kunci pintu sebuah rumah bernama masyarakat madani.
Kolaborasi adalah sebuah pola pikir bahwa hanya kita sendiri yang
seyogianya mengubah nasib buruk kita. Kota kita adalah tanggung jawab
kita sendiri.

Di hari Rabu yang dingin di tahun 2013 ini,
di sebuah kota bernama Pennsylvania, saya diamanati sebuah penghargaan.
Di atas panggung, Eugenie Birch, Direktur IUR, organisasi pemberi award
ini, berkata: “Kami terinspirasi oleh semangat Bandung”. Semangat ini
tercermin ketika sebuah kampung, Blok Tempe, di Bandung, 2 tahun lalu
mampu menyelesaikan sendiri masalah banjirnya. Warga Blok Tempe mampu
mengelola sampah, air dan asuransi kesehatannya sendiri. Di sisi lain,
sekumpulan anak muda kreatif dalam wadah Bandung Creative City Forum
(BCCF) terus bergerak mencari ragam solusi kreatif untuk masalah kota
Bandung.
Semangat Bandung hari ini adalah semangat survival dan
kekompakan warganya. Semangat ini adalah energi luar biasa. Gotong
royong par excelence. Dan dunia pun mengamatinya. Dan dunia pun
menghargainya dengan Urban Leadership Award yang dititipkan kepada saya.
Award ini adalah untuk semangat Bandung. Semangat yang menginspirasi
dunia.
Kawan-kawan yang peduli,Selama tiga tahun terakhir,
mungkin lebih dari seratus kali saya bersilaturahmi dengan ragam warga,
komunitas dan sesepuh-sesepuh kota Bandung. Yang saya lakukan hanya
satu: mencoba menjadi pendengar yang baik. Kesimpulannya juga satu:
mereka punya aspirasi dan mimpi untuk hidup, bernapas, beraktivitas di
kota Bandung yang nyaman dan bermartabat. Dan sejujurnya, mimpi
sederhana ini pula yang hari ini belum hadir di kota ini.
Juni
tahun 2013, tahun ini, Bandung akan menyelenggarakan pergantian
kepemimpinan kotanya. Di hari-hari ini kita berdiri pada sebuah
persimpangan nasib. Apakah kita hanya berdiri di pinggir mengamati
kemunduran kota yang melahirkan Indonesia ini? Atau memberanikan diri
melompat ke barisan depan untuk ikut menentukan masa depan kota yang
pernah menginspirasi Asia dan Afrika ini?
Dengan segala
keterbatasan dan kerendahan hati, ijinkan saya berjuang untuk mewujudkan
mimpi sederhana nan mulia tadi dengan berkompetisi dalam pemilihan
Walikota Bandung 2013-2018. Ibu saya selalu memberi pesan, jadilah
manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya. Manusia
yang konsisten untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar dirinya. Niat
saya ingin berkerja, memberikan yang terbaik untuk negeri ini, negeri
tempat saya menyusu dan meminum air tanah bumi pertiwi ini.
Kawan-kawan
yang baik,Mewujudkan mimpi ini tidak bisa dilakukan sendirian. Saya
butuh Anda semua. Kita butuh kita semua. Kita optimis bisa merebut masa
depan kita yang lebih baik. Apa guna hidup jika kita tidak optimis. Saya
yakin kita bisa!
Selama 100 hari ke depan kita akan
bergerak bersama. Selama 100 hari ke depan kita akan merapatkan barisan.
Selama 100 pagi ke depan kita akan menyingsingkan lengan baju kita.
Selama 100 siang ke depan kita perkuat tekad kita. Selama 100 sore ke
depan kita perterteguh niat baik kita. Selama 100 malam ke depan kita
curahkan gagasan-gagasan kita. Dan selama 100 subuh ke depan kita
perbanyak doa-doa kita. Allah selalu bersama mereka yang berusaha.
Dari
lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan berjuta terima kasih bagi
kawan-kawan yang mau percaya: dengan menyisihkan waktu dan energi,
bergabung dalam barisan ini.
Kata orang bijak, daripada selalu
mengutuki kegelapan lebih baik menyalakan lilin-lilin kecil. Sekarang
saatnya kita hadirkan nyala lilin-lilin itu untuk masa depan yang terang
bagi anak-anak kita. Saya bermimpi, jika di suatu pagi di hari Minggu
yang cerah di tahun 2018, di saat kita mengantar anak-anak kita bermain
di taman kota, saya ingin Anda berkata: “Ya Allah, Tuhanku, ternyata 5
tahun lalu itu waktuku untuk jadi relawan tidaklah sia-sia”.
Mari bergerak kawan-kawan. Ada kereta mimpi yang harus kita kejar.
Malam sunyi, Maret 2013
Jabat Erat
Ridwan Kamil
0 Komentar