Fraksi PKS DPRD Kota Bandung
menilai Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Bandung Tahun
Anggaran 2025 harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kualitas tata
kelola pemerintahan, efektivitas belanja daerah, serta dampak pembangunan bagi
masyarakat.
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota
Bandung, Eko Kurnianto, mengatakan capaian Pemerintah Kota Bandung dalam
realisasi program dan anggaran patut diapresiasi. Berdasarkan laporan yang
disampaikan, tingkat penyelesaian program dan kegiatan mencapai 90,97 persen,
sedangkan realisasi APBD menyentuh angka 96,93 persen.
| Eko Kurnianto |
“Sejumlah indikator makro seperti peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi, dan penurunan angka kemiskinan juga menunjukkan adanya perkembangan positif pembangunan kota,” kata Eko dalam keterangannya, Rabu (13/5/2026).
Meski demikian, Fraksi PKS
menegaskan keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari capaian
statistik. Menurut Eko, pembangunan harus mampu menghadirkan rasa keadilan
sosial dan manfaat yang dirasakan merata oleh seluruh warga Kota Bandung.
Fraksi PKS menyoroti koefisien
gini Kota Bandung yang berada di angka 0,420 sebagai sinyal masih terjadinya
ketimpangan ekonomi di tengah pertumbuhan kota.
“Pertumbuhan ekonomi tidak boleh
hanya dinikmati kelompok tertentu, sementara masyarakat kecil masih menghadapi
tekanan biaya hidup, keterbatasan akses pekerjaan, dan pelayanan publik,”
ujarnya.
Selain ketimpangan ekonomi,
Fraksi PKS juga menaruh perhatian terhadap struktur belanja daerah. Mereka
menilai porsi belanja pegawai yang melampaui batas ideal perlu segera
dikendalikan agar alokasi anggaran lebih banyak diarahkan pada infrastruktur
dan pelayanan publik.
Eko mengatakan Pemerintah Kota
Bandung perlu berani melakukan realokasi anggaran dari belanja administratif
menuju belanja yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Fraksi PKS juga menilai rendahnya
serapan Belanja Tidak Terduga (BTT) menunjukkan perlunya perbaikan dalam
kualitas perencanaan dan penganggaran daerah.
“Anggaran yang mengendap tanpa
memberikan manfaat kepada masyarakat merupakan opportunity cost yang harus
diminimalisir,” katanya.
Dalam evaluasi LKPJ 2025, Fraksi
PKS turut mendorong transformasi tata kelola pemerintahan agar tidak hanya
berorientasi pada penyerapan anggaran, melainkan berbasis hasil dan dampak
nyata.
Menurut mereka, reformasi
birokrasi harus melahirkan pelayanan publik yang cepat, adaptif, dan berpihak
pada kepentingan warga.
Adapun sejumlah agenda prioritas
yang menjadi sorotan Fraksi PKS antara lain pemerataan kualitas pendidikan,
penguatan layanan kesehatan primer, penanganan kemiskinan berbasis data
presisi, perlindungan perempuan dan anak, percepatan pembangunan drainase dan
pengelolaan sampah, hingga optimalisasi aset daerah dan reformasi BUMD.
Selain itu, Fraksi PKS juga
mendorong penguatan investasi dan penciptaan lapangan kerja yang berpihak
kepada warga Kota Bandung, serta penataan ruang kota yang lebih disiplin dan
berkelanjutan.
Eko menilai Kota Bandung
membutuhkan lompatan kebijakan melalui penguatan financial engineering,
digitalisasi tata kelola pemerintahan, efisiensi belanja rutin, dan peningkatan
investasi sektor produktif.
“APBD harus menjadi instrumen
pembangunan yang lebih progresif, adil, dan berkelanjutan,” ujar dia.
Fraksi PKS menyatakan pihaknya
akan terus mengawal rekomendasi Panitia Khusus (Pansus) 15 DPRD Kota Bandung
agar tidak berhenti sebagai dokumen administratif semata. Mereka meminta
komitmen Pemerintah Kota Bandung terhadap rekomendasi DPRD diwujudkan secara
terukur dalam RKPD 2027.
“PKS siap menjadi mitra kritis
yang konstruktif bagi Pemkot Bandung,” kata Eko.
0 Komentar