Agung Setiawan, seorang warga Antapani, Bandung, Jawa Barat, cedera saat lari di Jalan HOS. Cokroaminoto, Bandung, dekat Paskal Hyper Square. Kaki Agung terperosok ke dalam trotoar berlubang yang tertutupi genangan air.
Agung yang tergabung
dalam komunitas lari Fake Runner Bandung itu pun cedera pergelangan kaki.
Lututnya berdarah. Bahkan, layar gawainya pecah dan mesti diganti Rp700.000. Ilustrasi olahraga
Peristiwa yang menimpa
Agung menurut anggota Komisi III DPRD Kota Bandung Andri Rusmana merupakan
peringatan keras. Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, kondisi
trotoar jelek itu merupakan peringatan keras bahwa ada masalah serius dalam
kualitas infrastruktur di Kota Bandung,
"Trotoar bukan
sekadar elemen estetika kota, tapi ruang aman bagi pejalan kaki dan pelari,
Saya melihat ini bukan kasus tunggal, tapi indikasi perencanaan, kualitas
pekerjaan, dan pengawasan belum berjalan maksimal," kata pria kelahiran
Garut itu kepada Pikiran Rakyat belum lama ini.
Andri mengungkapkan, DPRD
Kota Bandung bakal mendorong audit menyeluruh kondisi trotoar, terutama di
jalur aktivitas olahraga dan publik.
Kedua, kata Andri,
mengevaluasi standar pekerjaan dan kontraktor pelaksana. Lalu, penegasan
tanggung jawab, tidak boleh ada yang lepas tangan.
"Bandung harus
berani jujur jangan hanya mengejar citra kota event, tapi abai pada standar
keselamatan dasar warganya," ujar dia menerangkan.
Andri mengungkapkan,
warga ingin fasilitas olahraga di Bandung bukan cuma ramai, tapi juga aman,
layak, dan membanggakan.
Menurutnya, hal tersebut
bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi juga soal komitmen pemerintah dalam
melindungi warganya.
"Kota Bandung tidak
boleh bangga menyelenggarakan event lari bertaraf internasional, jika
keselamatan pelarinya sendiri belum kita jamin," kata Andri menegaskan.
0 Komentar