Top Ad unit 728 × 90

Hujan Kini vs Tempo Doeloe


Sore itu, ketika tetes hujan mengincar tas gendong warna  coklat milik Tukang Catat di Simpang Empat Jalan Asia Afrika Bandung. Spontan dengan suara rengeng-rengeng mendendangkan lagu jadul berjudul Sang Kodok dari Benyamin Sueb. Seperti ini  lirik lagunya, ceria penuh canda, sesuai suasana hati yang sedang hepi.

🎼
Sang kodok eh eh sang kodok ..
Kenapa eluh delok delok aje (2x)

Makanya aye delok delok aje
Eh sang hujan kagak mau turun
Makanya aye delok delok aje

Eh sang hujan kagak mau turun
Sang hujan eh eh sang hujan
Kenapa eluh nggak mau turun

Sang hujan eh eh sang hujan
Kenapa eluh nggak mau turun

Makanya aye enggak mau turun
eh sang ikan kagak mau nimbul

Makanya aye enggak mau turun
eh sang ikan kagak mau nimbul

Makanya aye delok delok aje
Eh sang hujan kagak mau turun (2x)

Sang hujan eh eh sang hujan
Kenapa eluh nggak mau turun (2x)

Makanya aye enggak mau turun
eh sang ikan kagak mau nimbul (2x)

🎼

Sesaat tergambar suasana gembira warga Betawi tempo doeloe. Begitu merindu hujan, dinanti kapan tanah kembali tersirami, lalu bunga-bungapun bersemi, dan..ehem, tanahpun seketika menebar wangi. Tak sedikitpun tergambar perasaan terancam akan bencana yang diakibatkan guyuran hujan. Serasa kontras dengan suasana hati yang penuh was-was, ketika musim hujan tiba bagi  masyarakat Betawi dan seluruh penduduk DKI Jakarta saat ini. Betapa tidak? kemacetan mewarnai sana-sini, diikuti air meluap melanda pemukiman baik elit maupun gang-gang pengap.


Pada dekade enam puluhan, ketika lagu Sang Kodok ramai didendangkan, air hujan hanya terkumpul penuhi selokan, tak sampai menenggelamkan  pemukiman dan melumpuhkan sendi-sendi perekonomian. Fenomena dampak hujan masa kini.


Atau bisa jadi dulu mengakses berita dari media tak semudah kini, sehingga berita banjir berikut hujan  salah satu biangnya tak terekspos. Biarlah, ini bukan fokus masalah.

Tukang Catat hanya ingin menyoal salah satu peristiwa alam  yang diabadikan dalam Al Qur'an Surat Ar-Ruum ayat 48 tentang hujan, yang artinya:

"Allah, Dialah yang yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira".

Siapakah yang dimaksud dengan hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki dalam ayat tersebut ini? sementara potret masyarakat Indonesia pada umumnya dan ibukota Jakarta pada khususnya tingkat kesadaran lingkungan masih rendah. Tanpa merasa dosa membuang sampah seenaknya saja ke selokan atau kali, lama kelamaan pendangkalan kali terjadi.

Sisi lain yang menambah parah. Adanya lahan kosong menghilang tergantikan dengan gedung-gedung yang menjulang, kadang disertai sistim drainase yang dengan gampang standar yang ada diterjang. Akhirnya mudah ditebak, ketika hujan  hadir melahirkan banjir.

Sampai disini Tukang Catat merenung. Masihkah relevan lagu Sang Kodok yang yang jenaka dari Benyamin Sueb bait lagunya dengan  kondisi Betawi masa kini?
Pstt......jangan  bertanya pada rumput yang bergoyang, karena jawabnya terpampang gamblang.

(Frieda, Tukang Catat)
Hujan Kini vs Tempo Doeloe Reviewed by Frieda Kustantina on 16.45 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.