Top Ad unit 728 × 90

Meneladani Sejarah Hari Ibu

[ilustrasi: google]
 
Oleh: Ustadzah Salmiah Rambe
   
Assalamualaikum wr.wb Alhamdulillah alladzi kholaqolmauta wal hayati liyabluwakum ayyukum.ahsan amala, wahuwal azizul ghofur.asyahadu an Laailahaillah waaayhadu anna Muhammadan adbduhu warasulu

Alhamdulillah segala Puja dan Puji  syukur kita panjatkan hanya ke hadirat Allah atas segala nikmat yg Allah limpahkan bagi kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat sehat, nikmat berjuang dan atas berbagai nikmat Allah yg tdk bisa kita menghitungnya. salam dan shalawat kita panjatkan bagi junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta klg nya, sahabat nya dan para pengikutnya yg istqomah menegakkan Dien Islam ini sampai akhir zaman. Semoga kita semua termasuk golongan di dalam nya Aamiin.

Hari ini tgl 22 Desember kita memperingati hari Ibu. Sejenak kita mengingat sejarah  hari Ibu, tepatnya pada tanggal 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I (yang pertama). Gedung Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta menjadi saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). 

Bayangkan perjalanan yg ditempuh oleh kaum Ibu pada saat itu.. dari Sumatera,  ada yg dari Bukit Tinggi menuju ke Yogyakarta.. padahal th 1928 ( blm ada pesawat, transportasi masih minim) tapi mereka kaum Ibu sudah bisa menempuh perjalanan sejauh itu. Pada Kongres Perempuan Indonesia I yang menjadi agenda utama adalah mengenai persatuan perempuan Nusantara; peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan; peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Banyak hal besar yang diagendakan, tapi tidak mengangkat masalah kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu menuangkan pemikiran kritis dan upaya-upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya kaum perempuan. Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang. Penetapan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.

Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu adalah setelah Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini. Pada awalnya peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Misi itulah yang tercermin menjadi semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Peringatan Hari Ibu di Indonesia pada masa sekarang ini lebih kepada ungkapan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu,atas pengorbanan Ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan Hari Ibu  spt pemberian  kado,  penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu atau minimal membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik, kegiatan.rumahtangga sehari-hari.
Meski secara maknawiyah peringatan Hari Ibu saat ini kurang sejalan dengan makna kegiatan perempuan yang dilakukan pada masa perjuangan dahulu, mari kita coba untuk memaknai Hari Ibu dengan ajaran ,  tuntunan Allah dan RasulNya. Allah dan RasulNya memberi kedudukan yang SANGAT TINGGI dalam Islam. Dalam ayat Al Qur’an dan hadits Rasululloh SAW berikut:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu DENGAN SEBAIK BAIKNYA. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa’: 23)

Suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya: “Ya Rasul, siapa orang yang saya paling bergaul baik dengannya di dunia ini??” Rasul menjawab: “ibumu”, “lalu siapa lagi Ya Rasul??” Rasul menjawab: “Ibumu”, “kemudian setelah itu siapa lagi Ya Rasul??” orang itu bertanya lagi, Rasul menjawab: “ibumu”, orang itu bertanya lagi kemudian siapa lagi Ya Rasul?”, Rasul menjawab: “bapakmu” [al hadist]

Pada hadist di atas, disebut ibu dulu baru bapak. Bahkan pada hadits tsb ibu disebut 3 kali baru bapak. Ini menunjukkan Islam sangat peduli dan menempatkan ibu dalam kedudukan yang tinggi dan mulia. Kepada para kader dakwah, ikhwan dan akhwat fillah, wabilkhusus kepada diri sendiri,  mari  di Hari Ibu ini sejenak kita introspeksi diri,  sudahkah kita memuliakan Ibu kita? Sudahkah kita membahagiakan Ibu kita? sudahkah kita berkorban untuknya?  Sudahkah kita berupaya agar ibu kita mendapatkan keridhaan Allah dengan  amal sholeh yg kita lakukan?

Bagi yang masih memiliki Ibu, Alhamdulillah masih.ada.waktu.dan.kesempatan untuk berbakti.Gunakan KESEMPATAN ITU  SEBAIK BAIKnya sebelum Allah memanggil nya. Bagi yang Ibu nya telah tiada, masih ada kesempatan untuk berbakti pada Ibu dan ayah yang telah tiada
1.  selalu mendoakan Ibu  dalam.banyak waktu terlebih pada waktu sesudah sholat
2. Bersilaturahim kepada.saudara kerabat atau teman beliau yang masih hidup
3. Melanjutkan kebiasaan baik beliau misalnya semasa hidup Ibu kita terbiasa bersedekah kepada panti asuhan tertentu. Maka teruskan, lanjutkanlah, InsyAallah bukan hanya.kita.yg mendapat pahala dan ridha Allah tapi Ibu yg mencontohkan amalan tersebut juga Insya Allah akan mendapatkan pahala dan keridhaan Allah. aamiin

Secara umum kita punya Kewajiban untuk berbakti pada orangtua, ayah dan terlebih kpd Ibu selama beliau masih hidup ataupun ketika sudah tiada. Dengan berbuat baik, memperhatikannya dengan penuh kasih sayang , meringankan atau mengambil alih bebannya, membahagiakan hatinya, memenuhi harapannya, selalu mendoakannya dan berupaya membuat Ibu semakin bersyukur kepada Allah karena memilki anak seperti kita.

Ada juga amalan yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada ibu ketika selama beliau masih ada ataupun sudah tiada yaitu kita berjuang menghafalkan 30 juz Al Quran!! krn Allah menjanjikan mahkota kemuliaan bagi orangtua yang anaknya hafal Quran. Sudahkah kita punya keinginan memuliakan Ibu dengan menjadi Penghafal Quran? Jangan hanya memotivasi anak kita untuk menjadi hafidz/ah Quran berharap kita sebagai ibu atau ayahnya akan mendapat mahkota kemuliaan di syurga Allah, namun kita sendiri juga berupaya menghafal Quran agar Ibu (dan Ayah) kita mendapat mahkota kemuliaan dari Allah di SyurgaNya kelak..

hmmm.. sebuah hal yg patut kita renungkan..

Kepada para kader akhwat termasuk kepada diri saya sendiri yang mendapat mendapat amanah dari Allah sebagai Ibu, mari kita juga introspeksi diri: sudahkah kita menjadi Ibu yang baik, Ibu yang Sholihah untuk anak-anak kita? Sudahkah kita memperhatikan, menyayangi, mendidik anak-anak kita dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mendidik mereka untuk mencintai dan mentaati Allah dan Rasulullah? Sudahkah kita mengajak mereka untuk beribadah yang ikhlas kepada Allah?

Tiba tiba sy teringat anak anak saya.
Memanfaatkan waktu perjalanan(ke Jakarta) ini, karena saya yakin Allah mengabulkan permohonan hamba-hambanya yang sedang dalam perjalanan/safar. Saya berdoa kepada Allah. Mendoakan anak-anak saya, juga anak-anak Teh Eno, Mbak Nu, Teh Yusi, mbak Nety, Teh Yuli, Teh Siti, Teh Isma dan semua teman saudara-saudara saya yang lainnya.. Ya Allah jadikan anak-anak kami semuanya menjadi anak yang sholeh/sholihah, anak-anak yang taat beribadah kepadaMu, jadikan anak-anak kami para Penghafal Quran bahkan berhasilkan mereka ya Allah menjadi Hafidz/Hafidzah Quran. Jauhkan mereka dari perbuatan dosa, Lindungi mereka dari segala kejahatan, jaga kehormatan dan kesucian mereka. Jadikan mereka kader dakwah, pejuang penegak AgamaMu... Aamiin

Untuk para kader akhwat, mari kita selalu meningkatkan kualitas ruhiyah meningkat taqarub kita kepada Allah, selalu menambah ilmu dan selalu memperbaiki amal kita dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Kewajiban utama kita dalam keluarga, tapi kita pun punya kewajiban untuk memperbaiki masyarakat dengan potensi yang Allah titipkan kepada kita. Bukan hanya membangun ketahanan keluarga sendiri, tapi juga membangun ketahanan keluarga dalam masyarakat.

Yuuk kita terus perbaiki diri untuk menjadi Ibu Sholihah bagi anak anak kita. Ibu yang peduli dan bermanfaat bagi masyarakat, ummat.

"Ya Allah jadikan kami semua menjadi hamba hambaMu yang Sholihah,jadikan kami menjadi anak yang Sholihah, menjadi anak yang membahagiakan ibu dan ayah kami, jadikan ibu dan ayah kami semakin bersyukur Kepadamu dengan memiliki anak spt kami,jadikan kami anak yang dibanggakan orangtua di dunia dan akhirat nanti, jadikan orangtua kami kelak mendapat mahkota kemuliaan di Syurgamu karena kami ikhlas berjuang menjadi Hafidz/ah Quran.

Allahumma ya Allah jadikan kami menjadi istri yang Sholihah yg menjadi penyejuk suami, yang mendukung suami berdakwah di jalanMu, jadikan kami menjadi ibu Sholihah yang ikhlas mendidik anak anak dengan cinta karena Mu dengan kelembutan, kasih sayang dan ilmu. Jadikan anak-anak kami menjadi hamba Hambamu yang Sholih/ah Mujahid/ah Islam, menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat.

Ya Rabb jadikan kami anggota masyarakat yang bermanfaat besar bagi sesama, ikut memperbaiki masyarakat, dan berjuang menegakkan Agamamu hingga kelak Engkau memanggil kami semua dalam keadaan husnul khotimah , dalam keadaan syahid fiisabilillah dan Engkau berkenan memasukkan kami semua, ayah ibu kami , anak anak kami dan saudara-saudara kami semua ke dalam Syurgamu, dalam Keridhaan Mu.
aamiin ya Allah ya Mujibassaailin.."
Meneladani Sejarah Hari Ibu Reviewed by alimoel soekarno on 08.57 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.