Top Ad unit 728 × 90

Antara AADC, Keteladanan, dan Hari Pahlawan

Seorang pahlawan boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. Akan tetapi, dia tidak boleh kalah. Dia tidak boleh menyerah kepada kelemahannya; dia tidak boleh menyerah kepada tantangannya; dia tidak boleh menyerah kepada keterbatasannya. Dia harus tetap melawan, menembus gelap, supaya dia bisa menjemput fajar. Sebab, kepahlawanan adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan." (M Anis Matta)

sumber gambar: matapena-nalar.blogpsot

AADC (Ada Apa dengan Cinta) adalah sebuah film yang menghentak generasi muda pada tahun 2002. Kita bisa perdebatkan di lain waktu apakah dampaknya baik atau buruk terhadap remaja. Namun mari pelajari sebuah kenyataan tentang sosok pahlawan dan keteladanan. Rekan penulis di tempat kerja bercerita bahwa saat AADC diluncurkan di bioskop, mendadak perilaku dari lelaki sekelasnya di SMA meniru-niru sosok tokoh Rangga (Diperankan Nicholas Saputra); rambutnya digondrongkan sedikit, mendadak “cool”, suka baca buku puisi dan matanya ditajam-tajamkan seperti Rangga. Agak lucu memang, tapi coba anda ingat, jangan-jangan anda termasuk yang melakukan hal itu. Kalau dipikir-pikir fenomena tersebut merata terjadi hampir di seluruh anak muda, terpengaruh oleh film.

Jika kita renungkan, ternyata orang muda dan usia berapapun akan melakukan profilisasi dirinya dengan orang lain. Atau dengan bahasa yang lebih mudah, akan mencari model sosok idola lalu menganggap dirinya adalah sosok terebut dan berusaha agar dirinya menjadi semirip mungkin dengan idolanya. Dalam kasus film AADC, sosok Rangga berhasil menjadi idola dan standar ideal seorang pemuda SMA. Maka Siswa SMA bahkan SMP akan berusaha membuat diri masing-masing semirip mungkin dengan tokoh rangga.

sumber: gentarasa.blogspot

Bila kita renungkan, mengapa harus ada sahabat dalam sejarah kenabian Rasulullaah SAW. Salah satu hikmah yang bisa kita renungkan adalah bahwa menjadi sehebat Nabi Muhammad SAW adalah hal yang sulit, namun kita harus mengejarnya. Menjadi sosok pemimpin hebat, sekaligus orator handal, sekaligus suami romantis, sekaligus sahabat yang ramah, sekaligus pendekar yang kuat sekaligus segala kebaikan beliau lainnya, tentu tidaklah mudah. Namun tetap Rasulullaah adalah sosok yang harus kita teladani. Maka adalah Sahabat Nabi yang menjadi anak tangga yang bisa kita raih menuju pribadi yang paripurna. Kepribadian Nabi yang begitu paripurna bagaikan mengkristal di sosok para sahabat nabi dengan keunikan masing-masing. Sosok sahabat nabi begitu bervariasi. Ada Abu Bakar yang loyal, Umar yang perkasa, Utsman yang pemalu, Ali yang periang dan sosok lainnya.

“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533) 

Kristalisasi kepribadian tersebut menjadi kemudahan yang Allah berikan bagi kita untuk menapaki anak tangga kesolehan. Maka kita bisa memilih sosok mana yang mau kita idolakan, disesuaikan dengan karakter diri kita, dalam misi menaladani Rasulullaah tentunya. Jika anda orang yang lembut dan pemalu, jadilah soleh seperti Utsman. Bila anda kuat dan tegas, maka idolakanlah Umar Bin Khatab, pelajari biografi beliau. Bila anda seorang perempuan yang genius, maka tirulah Aisyah, Ummul Mukminin. Bila anda sosok perempuan yang tangguh dan mengayomi, tirulah Khadijah RA. Mata air keteladanan islam tak akan pernah kering. Stok kepahlawanan muslim masih banyak dan akan terus tumbuh.
sumber:id.wikipedia

Menyongsong hari pahlawan 10 November hari ini, mari kita renungkan siapa yang menjadi pahlawan bagi anak-anak kita, generasi muda kita, dan bagi semua rakyat Indonesia. Apakah sosok-sosok di TV? Apakah diri kita? Apakah diri kita sudah layak menjadi pahlawan bagi mereka? Siapakah yang sekarang ada di panggung kepahlawanan? Meski kenangannya masih di bumi, para almarhum pahlawan sudah berada di alam lain. Sosok mereka sebagai idola adalah luar biasa namun tidaklah cukup. Diperlukan sosok-sosok baru di zaman ini yang merebut panggung kepahlawanan dari orang yang tidak layak jadi pahlawan.


Mari masing-masing diri kita menjadi pahlawan. Atau mari dorong orang yang baik untuk jadi pahlawan. Buat mereka naik ke panggung. Agar anak-anak kita, generasi muda kita, dan seluruh rakyat Indonesia mendapatkan idola baru, mendapatkan teladan baru, dan bersemangat mengubah dirinya semakin baik. Agar Indonesia berkelimpahan orang yang baik dan saling meniru kebaikan, meski mungkin sambil meniru tampilan rambut digondrongkan sedikit, mendadak “cool”, suka baca buku puisi dan matanya ditajam-tajamkan seperti Rangga. Selamat hari pahlawan (oleh: fanfiru)
Antara AADC, Keteladanan, dan Hari Pahlawan Reviewed by Anak Panah yang Terbang Melesat on 09.37 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.