Top Ad unit 728 × 90

Normal, Terkejut, dan Nilai Kebenaran

"If you tell a lie long and loud enough, people will eventually start to believe it" (anonym)
“Meskipun itu kebohongan, jika kau mengatakannya cukup keras, orang-orang akan mulai mempercayai itu” (anonym)

sumber gambar: matthewcleek.com

Apa itu normal? Sesuatu yang tidak normal membuat kita terkejut. Apakah berarti kenormalan adalah sesuatu yang tidak membuat kita terkejut? Bila tiba-tiba suatu malam ada kembang api, bagaimana reaksi pertama kita pertama kali? Kita akan terkejut. Muncul kembang api berikutnya, kita masih terkejut, tapi mulai berkuranglah keterkejutan kita. Awalnya kita anggap kembang api itu tidak normal. Tapi setelah selesai ledakan pertama, itu mulai terasa normal hingga puluhan ledakan terjadi, kembang api jadi terasa normal.

Psikolog Dale Miller, sebagaimana dikutip dalam buku Thinking , Fast And Slow karya Daniel Kahneman (Peraih Hadiah Nobel Bidang Ekonomi),  menulis satu esai untuk mencoba menjelaskan bagaimana peristiwa jadi dipandang sebagai normal dan tak normal. Peristiwa itu tampak normal karena melibatkan peristiwa pertama, mengambil peristiwa pertama dan ingatan yang terbentuk, dan ditafsirkan sesuai peristiwa pertama.

Bila ada yang betanya, “ Berapa hewan dari tiap-tiap jenis yang dibawa Musa dalam kapalnya?” Kita akan berusaha mendeteksi apa yang salah dari pertanyaan itu. Ya betul, Rasul yang membuat perahu adalah Nuh AS, bukan Musa AS. Namun kita tidak terlalu terkejut bukan? Mengapa? Karena Musa AS dan Nuh AS adalah sama-sama Rasul. Namun apa yang terjadi bila pertanyaannya diganti, “Berapa hewan dari tiap-tiap jenis yang dibawa Gubernur Ahmad Heryawan dalam kapalnya?” Akan terasa lebih mengagetkan bukan? Karena ingatan awal kita adalah Gubernur Ahmad Heryawan bukan nabi. Maka pertanyaan “Ahamd Heryawan” terasa lebih tidak normal dibandingkan pertanyaan “Musa AS”.

Dari beberapa ulasan tersebut, kenormalan dan ketidaknormalan menjadi sesuatu yang perlu kita renungi lebih dalam. Allah merancang otak kita sehingga mampu mendeteksi kenormalan dan ketidaknormalan. Banyak manfaat dari kemampuan kita itu namun ada pula dampak yang perlu kita waspadai.

Sisi positif yang perlu kita syukuri bahwa hal tersebut membuat kita mampu beradaptasi. Bayangkan bila kita tidak punya kemampuan “menormalkan” sesuatu. Setiap tahun baru kita akan lelah karena terus tarkaget-kaget oleh kembang api padahal itu sudah ledakan yang ke 100 di malam tahun baru. Bila kita tidak mampu beradaptasi, kita akan selalu kaget dengan kondisi yang kita hadapi. Di jalan raya bila ada kendaraan menyalip, kita akan terus kaget dan panik. Tapi karena otak kita mampu belajar, kita akan lebih waspada, tenang, dan antisipatif. Ketika ada pengendara ugal-ugalan, kita akan tetap tenang, karena sudah pengalaman menghadapi kejutan dari budaya berkendara di kota.

Sisi negatif yang perlu kita waspadai bahwa hal tersebut membuat kita akan mampu mentolerir apapun, sekalipun itu adalah keburukan. Suatu hari kita dengar ada kabar kriminalitas anak SD, kita kaget. Lalu muncul berita kedua, kenakalan siswa SD, masih kaget juga. Tapi bayangkan bila berita itu berkali-kali terjadi muncul di televisi, kita akan semakin tidak kaget, dan menganggap bahwa anak SD yang kriminal itu normal. Yang lebih buruk bahkan kita menganggap siswa SD yang baik itu jadi terasa tidak normal. Dan kita kaget melihat ada anak SD yang baik.

Mari kita renungkan ketidaknormalan yang sudah kita anggap normal. Dalam kasus penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) misalnya. Seakan-akan terbentuk di benak masyarakat bahwa CPNS kalau tidak menyuap itu maka tidak akan lulus. Berbuat curang dalam proses penerimaan CPNS dianggap normal karena dulu saking seringnya itu terjadi. Bahkan kini tidak sedikit orang tertipu oleh oknum yang mengaku-ngaku sebagai panitia CPNS dan meminta sejumlah uang. Kini pemerintah telah bekerja keras membersihkan proses tersebut bersih. Dan saat kini sudah bersih, kita merasa kondisi ini “tidak normal” padahal ini yang seharusnya normal.

Sama pula dengan budaya korupsi di oknum pejabat. Seperti terjadi anggapan masyarakat bahwa pejabat kalau mau kaya harus korupsi. Hal yang tidak normal, karena sering terjadi, seakan dianggap normal dan lazim. Ini dampak yang perlu kita waspadai. Suatu dosa dan kejahatan, bila sering terjadi, lama-lama akan dianggap normal. Budaya pacaran di kalangan pelajar adalah perbuatan yang tidak baik dan tak sesuai norma timur. Tapi karena saking seringnya terjadi, terlihat, dan tertampilkan dalam berbagai media, pacaran menjadi normal. Orang yang tidak pacaran dianggap tidak normal, bahkan menjadi objek “bully”. Naudzu Billaah.

Kesimpulannya, otak kita memiliki kemampuan adaptasi. Bila melihat hal yang buruk, kita akan terkejut pada awalnya. Namun bila keburukan itu kerap terjadi, otak kita akan menyesuaikan, dan tidak kaget lagi. Otak kita belajar dan menganggap keburukan tersebut sebagai sesuatu yang “normal”. Tugas kita untuk tanpa lelah mengatakan yang salah itu memang salah. Tugas kita untuk terus mengatakan yang tidak normal adalah memang tidak normal. Sehingga masyarakat kita terlindungi dari perilaku-perilaku menyimpang.

There shall be no compulsion in [acceptance of] the religion. The right course has become clear from the wrong. So whoever disbelieves in Taghut and believes in Allah has grasped the most trustworthy handhold with no break in it. And Allah is Hearing and Knowing. (Al BAqarah [2]: 256)

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat Barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al BAqarah [2]: 256)

Oleh: Fanfiru.
Normal, Terkejut, dan Nilai Kebenaran Reviewed by Anak Panah yang Terbang Melesat on 22.45 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.