Top Ad unit 728 × 90

Mengenal Lebih Dekat Sani Ihsan Maulana

Sani dan keluarga


“Ketika bencana Tsunami terjadi di Aceh akhir desember 2004, saya ditugaskan salah satu lembaga zakat Bandung selama 3 bulan untuk memberdayakan perekonomian masyarakat yang sudah lumpuh saat itu akibat bencana. Nyaris membuat saya betah untuk tetap tinggal di sana, akan tetapi karena kondisi Ibu saya yang terserang penyakit stroke, mengharuskan saya segera pulang ke Bandung. Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama di Aceh, dan itu membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan dan karakter saya,” tutur Sani.
Itulah penggalan kalimat yang dituturkan oleh Sani Ihsan Maulana (35 tahun) kepada penulis, Bapak 3 orang anak yang akrab dipanggil dengan “Sani” ini menceritakan sepak terjangnya mulai berkecimpung di dunia sosial. Berawal dari ketidaksengajaan, Sani yang saat itu baru lulus kuliah dari Jurusan Fisika UNPAD, mengharuskannya mencari pekerjaan sebagai syarat dari orangtuanya agar bekerja di sebuah perusahaan.
Sebenarnya, semasa kuliah pun Sani sudah mempunyai pekerjaan, diantaranya marketer konveksi dan mengajar privat anak-anak SMA. Hal ini dilakukanya untuk mencukupi biaya hidupnya, karena ketika awal kuliah Ayahnya sudah tiada. Sampai lulus kuliah, Sani sudah mempunyai toko design grafis sendiri. Dunia usaha yang menjadi hobinya ini menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan penghasilan. Akan tetapi, orangtuanya tidak berpikir demikian, yang dilakukan Sani bukanlah pekerjaan di mata orangtuanya.
Ketika ada informasi lowongan pekerjaan di salah satu lembaga zakat  Bandung, Sani tidak melepaskan kesempatan itu. Maka dimulailah di tahun 2004 itu, perjalanan seorang Sani di dunia sosial. Bencana alam saat itu datang bertubi-tubi di Indonesia, setelah Tsunami Aceh, terjadi Gempa Jogja, Gempa Padang dan Tsunami Pangandaran.
Kejadian-kejadian tersebut, terutama Tsunami Aceh membawa dampak yang sangat besar kepada dirinya, ada semacam keterikatan batin antara Sani dan penerima manfaat, sehingga berat jika harus meninggalkan mereka. Dari sanalah Sani menemukan passionnya di bidang sosial.
Sani banyak belajar dari pendiri Dompet Dhuafa, Eri Sudewo, selama berada di Aceh. Istilah Social Entrepreneur pertama kali dilontarkan oleh Eri Sudewo, dan menjadi booming sekarang ini. Seorang wirausahawan yang berjiwa sosial, itulah arti Social Entrepreneur. Sani memegang prinsip ini sampai sekarang.
Tahun 2009, Sani pindah ke lembaga zakat lain, dorongan usaha muncul kembali. Pembelajaran yang Sani dapatkan selama berkecimpung di dunia sosial, membawa pengaruh dalam dunia usaha yang dijalaninya. Pengalamannya sebagai seorang leader, memberikan pemahaman kepada dirinya bahwa karyawan itu merupakan aset terbesar yang dimiliki perusahaan, sehingga harus bisa memaksimalkan kemampuan karyawannya dan bisa mensejahterakan mereka.
            Dunia usaha dan sosial dijalaninya, karena Sani merupakan seorang Social Entrepreneur sejati. Baginya tidak mungkin untuk meninggalkan salah satunya.. Baginya berbagi dengan sesama itu adalah hal yang indah yang akan terus dilakukannya sepanjang hidupnya. “Berbagi itu indah!”
(Nur)



Mengenal Lebih Dekat Sani Ihsan Maulana Reviewed by Ipah Abiba on 15.38 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.