Top Ad unit 728 × 90

Renungan dari matinya Sang Pengemis



by Rahmat Puryodo

Surah Al Maa'un Ayat satu, Kita-kah ? ( hanya sebuah renungan kecil )
Diantara rintik hujan yang mengantar senja ke tempat peristirahatannya ,
semilir angin berhembus menerpa wajah-wajah letih di jalanan membuat orangenggan untuk keluar rumah. Genangan-genangan air mulai muncul dijalan-jalan beraspal yang tidak lama lagi akan memantulkan cahayalampu-lampu jalan menandakan malam segera datang. Disudut jalan seoranganak kecil masih asyik memainkan mobil-mobilan bekas yang di perolehnyatadi siang dari tempat sampah. Ibunya masih tertidur disampingnya,atap-atap lebar rumah dan lebatnya pohon melindungi mereka dari sapuan airhujan, di sudut lain tampak beberapa pengemis dan pemulung juga mulai merebahkan diri. " Allahu Akbar..Allahu Akbar" kumandang adzan maghribterdengar saling bersautan dari corong-corong spiker masjid, suarayangmengajak orang menemui Sang khaliq penciptanya.
" Bu..bu..itu udah adzan mau sholat gak?" teriak anaknya membangunkan sangibu, tapi ibunya masih terus tertidur. Anak itu diam , lalu kemudianmeneruskan bermain mobil-mobilan. Setelah hampir setengah jam asyik bermain, anak tersebut kembali membangunkan ibunya " Bu....bu..., ...ibu gaksholat...... bangun dong bu....angga lapar nih !!" teriak anaknya, tapiibunya masih tetap tertidur, tidak bergeming sedikitpun. Karena keletihanmembangunkan ibunya tetapi tidak ada hasil anak itu kemudian tertidurdisamping ibunya. Anak itu berusia lima tahun dengan badan kurus dan lusuh,sedangkan ibunya berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah kurus pucatseperti orang sakit keras. Tidak beberapa lama adzan Isya berkumandang.Hujan semakin deras, jalanan tampak sepi, Anak itu terbangun sambilmeringis karena merasa lapar. Dia bangun lalu berlari kearah masjid diseberang jalan, kemudian menengadahkan tangan kepada jama'ah masjid yanghendak melaksanakan sholat. Anak itu telah terbiasa mengemis di depan masjid dan di persimpangan jalan, tetapi malam itu tidak satupun jama'ahyang memberikannya uang. Dia terus meringis menahan sakit perut yang belumterisi sejak pagi karena ketika siang hari ibu nya muntah-muntah lalukemudian tidur dan belum bangun sampai malam itu.
" Aro'aitalladzi yukajjibu biddin, fadza likalladzi ya du'uul yatim wa la
yaa khuddu 'alaa thoo 'amil miskin"terdengar suara imam membaca surat AlMaa'un dari dalam masjid tentang para pendusta agama. Semua jama'ah hafalayat itu tapi sama seperti nasib anak di luar masjid itu surah Al Maa'untersebut terlantar di sudut ingatan. " Iqra !" kata malaikat jibril kepadaMuhammad SAW, tidak ada kitab disana , Rasulullah SAW pun tidak bisamembaca, lalu apa yang mesti di baca ? " Iqra bismirabbikalladzi khalaq"bacalah dengan menyebut nama Tuhan Sang Maha Pencipta, surah itu sepertiberteriak kepada kita "bacalah sekelilingmu, bacalah keadaan lingkunganmu,baca dan berkacalah pada alam semesta dan tunjukan kepedulianmu" dan kitahanya tertunduk sambil terus membolak-balik kitab suci.
Anak itu belari kembali kepada ibunya sambil menangis menahan sakit,tubuhnya basah oleh air hujan, air yang bagi mahluk lain menjadi rahmat,tetapi baginya menjadi seperti sapaan Tuhan terakhir kepadanya, diatertidur sambil memegang perut didada ibunya. Kedua ibu dan anak itu padapagi harinya di ketemukan warga telah meninggal dunia, meninggalkan deritayang dideranya , meninggalkan para pendusta agama yang tidak pernah maumenyapanya.
Ketika malam nanti hujan menghampiri kita, disaat kita berkumpul bersama
keluarga dan merasakan kehangatan, maka sesekali ambillah payung lalu
keluar rumahlah, carilah rintihan disudut-sudut jalan, di halte-halte bis ,
sapalah mereka , redakan ketakutan di hati mereka berbagilah sedikit. Jika
kokohnya rumah kita masih membuat takut anak anak kita ketika mendengarhalilintar , lalu bagaimana dengan teriakan anak-anak tanpa atap tersebut,siapa tahu senyuman kita mampu mengusir galau dan resah di hati mereka laluperlahan-lahan bisa melunturkan stempel pendusta agama di kening kita
Ini hanya sebuah renunga buat diri kita. Semoga Kita bisa memperbaiki dirikita untuk menjadi seorang yang lebih baik
Renungan dari matinya Sang Pengemis Reviewed by PKS Bandung on 16.42 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by PKS Kota Bandung © 2014 - 2015
Powered By Bidang Humas, Designed by HnM

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.